Menggali Rahasia Doa Nabi Khidir

Adakalanya, kita tak tahu apa yang harus kita ucapkan kala berdoa. Minimnya kosakata, banyaknya hal yang harus diminta, khayalan yang terbang tak tentu arah, tak terumuskannya keinginan dan harapan, serta ketidak mengertian kita akan diri kita sendiri, apalagi Tuhan menjadikan lidah kita kelu ketika kita "harus" berdoa. Jadilah kemudian doa kita seperti ucapan seorang dukun yang sedang membaca mantra, yang mengejar target selesainya pembacaan jampi-jampi agar cepat memperoleh uang.

Padahal, kalau kita pikir, berdoa adalah kebutuhan keseharian kita. Dengan berdoa, kita percaya akan mampu menghadapi kehidupan ini dengan hati lapang dan pikiran benderang. Kita yakin bahwa di balik keruwetan hidup yang menghimpit, masih ada kekuatan lain yang mampu mengurai kusutnya benang kehidupan kita. Dengan berdoa, kita percaya kekuatan tersebut akan menjelma dalam diri kita, sehingga kita berani menghadapi apapun dengan kepala tegak. Dengan demikian, gagalnya kita dalam berdoa (tepatnya, sedikit atau hampanya pengaruh doa bagi kehidupan kita), menjadikan kita loyo, muram, pesimis, dan tega menyerahkan,hidup kita kepada altar ketentuan "nasib"..

Dalam pada itu, kalau ditilik lebih jauh, berdoa memerlukan pemahaman akan apa sebenarnya yang baik bagi hidup dan kehidupan kita. Jadi, bukan apa yang menyenangkan kita. Sebab, adakalanya, minum obat, operasi, bahkan boleh amputasi sebagian anggota tubuh adalah baik bagi kita, meskipun sudah pasti itu tidak menyenangkan. Karena itu, yang terbaik bahkan merupakan puncak ketinggian makna dalam berdoa adalah menyerahkan sepenuhnya kepada Yang Mahakuasa akan apa yang terbaik bagi kita. Dengan begitu, kita mengandalkan Yang Maha mampu atas apa saja yang terjadi di dunia ini, bukan mengandalkan diri kita.

Tentu saja, untuk sampai pada titik "penyerahan" total seperti itu diperlukan pengenalan yang purna dan cinta yang suci kepada Yang Mendengarkan doa, bahkan harus "lebur" bersama-Nya. Pada titik ini, menjadi mustahil bagi kita untuk berdoa. Sebab, hanya kekasih-kekasih-Nya (seperti Rasulullah Saw, Ahlul Bait, dan orang-orang terpilih saja) yang mampu berdoa secara demikian. Bagi kita, paling tidak. kita dapat mengambil "berkah" dari kata-kata yang mereka ucapkan. Sebab, Zat yangMahamengabulkan doa telah memerintahkan dan mengajari kita untuk senantiasa berdoa kepada-Nya.

Benar, al-Quran, Rasulullah saww, dan keluarga pilihannya, seperti yang mengajarkan doa ini, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, telah mendidik kita-melalui murid pilihannya, pengemban amanat doa ini. Kumayl ibn Ziyad tentang bagaimana cara yang tepat dalam berdoa. Juga, penulis buku ini, Allamah Husain Mazhahiri, seorang guru akhlak terkemuka, dengan penuh ketekunan telah berusaha mengupas doa yang diajarkan Imam Ali kepada muridnya ini. Semuanya beliau lakukan, tentunya, agar kita mampu menggali rahasia yang terkandung dalam gunung hikmah doa nan kemilau ini.

Detail Buku:

Judul: Menggali Rahasia Doa Nabi Khidir
Penulis: Allamah Husain Mazhahiri
Penerjemah: M.J. Bafaqih
Penerbit: Cahaya, 2003
ISBN: 979-3259-16-7
Jumlah Hal: 363 Hal
Format: PDF
Besar File: 5,82 Mb
Baca-Download: Google Drive