Berpolemik dan berbeda pendapat merupakan tabiat manusia. Sebagai Sang Pencipta Yang Maha Bijak, Allah swt. menghendaki tabiat dan fitrah ini tetap berjalan di atas keimanan yang benar. Oleh karena itu, adanya sebuah tolok ukur yang kelak menjadi rujukan semua pihak adalah satu keniscayaan yang tidak dapat dielakkan lagi. Allah swt. telah menurunkan kitab pedoman dengan kebenaran yang akan menjadi penengah bagi umat manusia dalam pelbagai hal yang diperselisihkan (QS.2: 213). Tanpa bekal ini, kehidupan yang sehat tidak akan dapat berlangsung. Ini adalah ketentuan yang telah ditegaskan oleh Al-Quran dan dilandaskan di atas asas Tauhid yang absolut. Lalu, penyimpangan, mitos dan kebohongan mulai dan terus menerus dilakukan oleh anak cucu Adam, hingga akhirnya mereka mulai menjauh dari asas yang kuat ini. Dari sini jelas, bahwa manusia tidak akan sanggup menjadi penengah antara kebenaran dan kebatilan selagi mereka masih menjadi abdi hawa nafsu dan kesesatan. Al-Quran telah datang, namun hawa nafsu telah mencabik-cabik manusia ke pelbagai arah. Ambisi, obsesi, keresahan dan kesesatan telah melemahkan seseorang dalam menerima hukum dan arahan Al-Quran dan memalingkan mereka dari merujuk kepada kebenaran yang telah jelas.
Detail Buku:
Judul: Peradaban Syi'ah dan Imu Keislaman
Penyusun: Sayyid Hasan Ash-Shadr
Penerjemah: Ammar Fauzi Heryadi
Penerbit: Majma Jahani Ahlul Bait, 2007
ISBN: 978-964-529-220-9
Jumlah Hal: 290 Page
Format: PDF
Besar File: 11,4 Mb
Baca-Download: Google Drive

0 Komentar
Jika terdapat link ebook error atau bermasalah, silahkan berkomentar,. nanti kami reupload, Salam