Ilmu Tauhid, dengan segala kajian dalil dari Al-Qur’an dan Hadits (Dala-il Naqliyyah) di dalamnya, yang dikuatkan dan dibenarkan dengan kesaksian argumen-argumen rasional (Barahin  ‘Aqliyyah); dinamakan juga dengan Ilmu Kalam. Prihal sebab penamaan Ilmu ini dengan Ilmu Kalam terdapat beberapa pendapat. Satu pendapat menyebutkan bahwa dinamakan demikian adalah karena ada beberapa firqah yang mengaku Islam namun memiliki banyak perselisihan pendapat dengan Ahlussunnah hingga terjadi perang argumen (al-Kalam) antar mereka dalam menetapkan kebenaran.

Pendapat lain menyebutkan bahwa dinamakan Ilmu Kalam adalah karena perselisihan dan perbedaan mendasar antara Ahlussunnah dengan kelompok lainnya adalah dalam masalah Kalam Allah. Apakah Kalam Allah itu Qadim seperti yang ditegaskan oleh kaum Ahlussunnah? Ataukah Kalam Allah tersebut baharu seperti yang diyakini kaum Mu’tazilah? Ataukah Kalam Dzat Allah itu dalam bentuk huruf-huruf, suara, dan bahasa seperti yang diyakini kaum Hasyawiyyah?

Dalam  masalah  Kalam  Allah  ini  setidaknya  terdapat  tiga  besar yang satu sama lainnya saling bertentangan. Pertama; kaum  Hasyawiyyah,  yaitu  salah  satu  sub  sekte  firqah Musyabbihah; kaum sesat menyerupakan Allah dengan makhluk- Nya.  Mereka  berkeyakinan  bahwa  Kalam  Allah  berupa  huruf- huruf, suara dan bahasa. Bahkan sebagian mereka dengan sangat ekstrim mengatakan bahwa suara dari setiap bacaan kita terhadap Al-Qur’an, juga huruf-huruf yang tersusun di dalam Al-Qur’an itu sendiri adalah sesuatu Azaly dan qadim, tidak memiliki permulaan. Keyakinan  kaum  Hasyawiyyah  ini  jelas  tidak  dapat  diterima  oleh akal sehat. Karena bila demikian maka berarti Allah serupa dengan makhluk-makhluk-Nya.

Detail Buku:

Judul: Bukan Huruf, Bukan Suara, Bukan Bahasa
Penyusun: Kholilurrohman
Penerbit: Nurul Hikmah Press, 2020
ISBN: 978-623-92773-2-1
Jumlah Hal: 195 Hal
Besar File: 1,72 Mb
Baca-Download: Google Drive